Orang Indonesia memang bagus sudah
banyak yang mengenal teknologi internet, tetapi dalam penggunaannya, masih
banyak yang belum sadar bahwa banyak informasi di dunia maya yang keasliannya
tidak dapat dipastikan. Hal ini diperburuk dengan banyaknya orang Indonesia
yang malas menambah wawasan, sehingga wawasannya kurang luas. Alhasil,
seringkali informasi-informasi palsu yang beredar di internet dianggap sebagai
informasi yang terpercaya, serta sebaliknya, informasi-informasi yang berupa
fakta nyata justru dianggap palsu atau dipaksakan.
Contoh yang ingin saya bahas di dalam
tulisan ini adalah kasus salah satu portal berita online “d*tik.com”. Portal berita ini pernah menulis berita tentang
N, seorang mahasiswa UI, yang kebetulan merupakan teman saya, yang dianggap
mempermainkan Polisi, khususnya Densus 88.
Di dalam berita tersebut disebutkan
bahwa N menelepon Densus 88 lantaran mendapati kotak yang mencurigakan di dalam
mobilnya yang tidak diketahui asal muasalnya. Setelah beberapa anggota Densus
88 datang, ternyata isi kotak tersebut adalah printer dengan kertas bertuliskan
“April Mop”. Disebutkan juga bahwa beberapa teman N datang dan menyorakinya
sembari mengucapkan selamat ulang tahun karena N saat itu sedang berulang tahun.
Berita tersebut benar-benar
mendapatkan respon negatif dari para pembacanya. Ada yang mencela N, ada juga
yang sampai mencela UI dengan sebutan universitas yang tidak dapat mendidik
mahasiswanya. Ini benar-benar pencemaran nama baik tingkat tinggi. Bukan hanya
perorangan, tetapi juga organisasi yang dicemar nama baiknya.
Setelah mendapati nama baiknya
dicoreng di portal berita tersebut, teman saya lantas marah dan menceritakan
kejadian yang sebenarnya. Ia berani mengklaim bahwa cerita versinya benar dan
ia memiliki banyak saksi dan bukti.
Jadi, saat itu N yang hendak memasuki
mobilnya menemukan kotak yang bukan miliknya berada di dalam mobilnya. Karena
curiga dan khawatir bahwa kotak tersebut berisi benda berbahaya, ia lantas
melapor kepada Satpam. Satpam pun berinisiatif untuk menelepon Polisi, yang
kemudian mengirimkan beberapa anggota Densus 88. Setelah diperiksa, ternyata
isi kotak tersebut adalah sebuah printer,
tanpa kertas bertuliskan “April Mop”
maupun “Happy Birthday”. Teman-teman
yang lewat pun sebenarnya hanya kebetulan lewat dan hanya menyoraki N dengan
maksud mengolok N yang dikerjai seseorang tidak dikenal yang menaruh kotak
misterius di dalam mobilnya. Tidak ada ucapan “April Mop”, apalagi “Happy
Birthday” karena kenyataannya hari itu N tidak berulang tahun. Cerita selesai
sampai di sini.
Entah darimana datangnya jurnalis “d*tik.com”
yang tiba-tiba dapat dengan cepat mengarang cerita tentang kesialan teman saya
yang diubah menjadi seperti tindakan tidak terpuji seorang mahasiswa terhadap
Polisi. Saya akui, sang jurnalis sangat andal dalam merangkai kata. Namun, apa
salahnya menuliskan berita apa adanya? Toh, dengan menulis berita sesuai fakta,
sang jurnalis tidak perlu repot-repot merangkai kata-kata indah dalam karangan
palsu, bukan?
Selain dari para jurnalis yang perlu
lebih memperhatikan kejujuran serta kode etik jurnalistik, masyarakat umum
sebagai penerima berita juga harus bersikap kritis terhadap berita-berita yang
muncul, terutama di dunia maya. Setiap muncul sebuah informasi baru, cermatilah
terlebih dahulu kelogisan informasi dan kredibilitas pemberi informasinya.
Jangan sampai Anda tergiring untuk membuat opini karena terkena kata-kata
renyah ala jurnalis yang belum tentu sepenuhnya benar. Selain itu, perdalam
juga pengetahuan umum Anda dari sumber-sumber terpercaya untuk menjadi bahan
pertimbangan setiap menerima informasi baru.
Sekian dulu pembahasan saya kali ini,
mohon maaf bila ada kekurangan dan salah kata.
Salam,
Andito
Tidak ada komentar:
Posting Komentar