Kamis, 28 Februari 2013

Salah yang Dibenarkan

Salah tapi Benar (?)

Saya tidak tahu apakah ini juga terjadi di negara lain selain di Indonesia. Di negara yang memiliki ratusan juta penduduk ini, dapat ditemukan kejanggalan-kejanggalan yang dianggap wajar. Kejanggalan-kejanggalan yang saya bicarakan di sini meliputi banyak hal yang berkaitan dengan kejadian sehari-hari.


Batas Umur Minimal Mengendarai Kendaraan Bermotor


Bukan sebuah pemandangan yang aneh, jika Anda melihat pengendara kendaraan bermotor di Indonesia tidak hanya orang dewasa yang sudah memiliki SIM. Siswa SMP dan bahkan SD sudah pernah saya lihat sedang mengendarai kendaraan bermotor. Sungguh pemandangan yang mengerikan. Bagaimana tidak? Pengendara yang berlisensi saja masih dapat melakukan kesalahan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan. Bagaimana dengan anak-anak di bawah umur?

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan anak-anak tersebut. Saya lebih menyayangkan para orangtua yang mengizinkan anak-anaknya yang masih belum cukup umur untuk mengendarai kendaraan bermotor. Entah apakah mereka bangga jika anaknya sudah bisa mengendarai kendaraan bermotor sejak kecil, atau sengaja ingin membunuh anaknya secara tidak langsung karena kelakuannya yang tidak baik? [Saya hanya bercanda untuk kalimat terakhir ini :) ]


Motor VS Mobil = Motor Menang

Jika di jalan terjadi tabrakan antara mobil dan motor, pasti yang disalahkan adalah pengendara mobil. Mengapa? Karena si pengendara mobil tidak luka-luka, sedangkan si pengendara motor pasti sudah luka parah atau sekarat. Kalau si pengendara mobil tidak mau membantu si pengendara motor, pasti ia akan dihabisi massa setempat karena dianggap tidak bertanggung jawab.

Padahal, belum tentu si pengendara mobil yang bersalah dalam tabrakan tersebut. Sudah hal yang lumrah bahwa pengendara motor di Indonesia, khususnya Jakarta, sering melakukan hal-hal ekstrim saat berkendara. "Mencari kesempatan dalam kesempitan" mungkin adalah motto hampir seluruh pengendara motor di Indonesia. Ketika ada celah sedikit di antara mobil-mobil, biasanya akan ada motor-motor yang menyelinap untuk menyalip. Tidak jarang, aksi para pengendara motor tersebut gagal karena berbagai faktor. Akibat dari kegagalan tersebut sudah jelas,  pengendara motor dan motornya akan terserempet dan terlempar. Tidak jarang juga terjadi kasus di mana setelah jatuh, pengendara motor terlindas mobil lain yang melintas. Lagi-lagi siapa yang disalahkan? Mobil. Mengapa? Karena pengendara motor terlempar karena terserempet mobil? Paham macam apa ini? Saya jadi takut naik mobil. Takut dituduh atas kesalahan yang tidak saya perbuat.

Yang Memberi Uang Lebih yang Mendapatkan Prioritas

Jika Anda pernah mengurus dokumen-dokumen seperti SIM dan paspor, mungkin Anda pernah merasakan keadaan di mana Anda dipersulit ketika mengikuti prosedur pengurusan secara benar. Sebagai contoh, dalam proses pembuatan SIM, dengan mengikuti semua prosedur yang ada, saya menghabiskan waktu lebih dari lima jam sampai saya mendapatkan SIM di tangan saya. Sedangkan jika melalui calo(Calo yang saya maksud bisa orang yang kenal dekat dengan staf Samsat, maupun oknum-oknum Polisi.), Anda bahkan bisa mendapatkan SIM hanya dengan memberikan pas foto Anda. Tentu saja biaya yang harus Anda keluarkan jika menggunakan jasa calo akan jauh lebih besar dibandingkan dengan mengikuti prosedur yang benar. Anda hanya memerlukan sekitar 250 ribu rupiah untuk membuat SIM A dan C bila mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Dengan menggunakan jasa calo, Anda dapat menghabiskan lebih dari 750 ribu rupiah untuk mendapatkan kedua SIM tersebut.


Jadi, Benar atau Salah?

Apakah menurut Anda bahwa yang saya tulis di atas benar atau salah, semua kembali kepada diri Anda sendiri. Jika Anda adalah orang yang taat peraturan, mungkin Anda akan memandang hal-hal di atas sebagai hal-hal yang salah. Jika tidak, tentu saja pandangan Anda akan lain.

Menurut saya pribadi, mengapa harus repot-repot membenarkan hal yang salah jika di dunia ini masih tersedia banyak perilaku yang benar-benar benar?



Salam,
Soul Traveler 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar