(Peringatan! Konten Eksplisit!)
ORANG INDONESIA ITU RASIS!
Kalimat tentang isu rasisme tersebut pasti sudah sering anda dengar dan baca. Di tahun 2013, di saat setiap orang terlihat menyerukan kata persatuan, ternyata perpecahan karena rasisme masih terus terjadi. Memang rasisme zaman sekarang tidak lagi terlihat secara eksplisit seperti zaman dahulu di mana orang-orang dari etnis yang berbeda saling mengejek dengan menjelek-jelekkan etnis-etnisnya. Tetapi yang terjadi sekarang justru lebih parah. Paham rasisme bahkan ditanamkan ke dalam pikiran individu dari dalam lingkup keluarga!
Bukan hal yang baru, jika masyarakat Indonesia lebih senang untuk berteman dari etnis yang sama. Ternyata hal itu disebabkan oleh ajaran keluarga yang secara turun-temurun diajarkan ke setiap generasinya. Saya pun pernah di-"nasehati" untuk berteman dari etnis yang sama.
Mengapa harus dari etnis yang sama?
Berdasarkan apa yang saya dengar dari keluarga maupun lingkungan sekitar, masyarakat Indonesia cenderung terlalu membanggakan etnisnya masing-masing, serta memiliki sentimen terhadap beberapa etnis tertentu. Misalkan, ada stereotip perempuan Sunda itu hanya bisa berdandan dan menghabiskan uang suami saja. Kebalikannya, laki-laki Sunda disebut-sebut sebagai orang yang santun. Ada pula yang mengatakan bahwa orang Betawi itu pemalas dan kebanyakan pengangguran, orang Jawa yang terlalu banyak berpikir dan lambat dalam mengambil keputusan, orang Batak perkataannya tidak bisa dipercaya, hingga orang Tionghoa yang dicap sebagai orang-orang yang pelit.
Masih banyak label-label tentang etnis-etnis di Indonesia yang kalau ditulis sudah bisa menjadi buku.
Memangnya etnis memengaruhi sifat?
Mungkin para ahli biologi dan psikologi akan tertawa jika ditanyakan pertanyaan seperti itu. Faktanya, tidak pernah ada bukti ilmiah yang membuktikan bahwa sifat seseorang dipengaruhi oleh berasal dari etnis apa orang tersebut.
Generalisasi itu tidak baik!
Apakah Anda mau jika seluruh jawaban di kertas ulangan Anda dinyatakan salah hanya karena jawaban Anda di nomor pertama salah? Tentu tidak, bukan? Bisa jadi jawaban Anda yang salah hanya terdapat pada nomor pertama dan jawaban lainnya benar semua. Generalisasi dapat berdampak buruk karena kurang memerhatikan. Begitu juga dengan generalisasi yang berkaitan dengan rasisme. Tidak dapat seseorang dinyatakan memiliki sifat tertentu berdasarkan etnisnya.
Tidak percaya?
Banyak contoh orang-orang terkenal dari Indonesia yang sifatnya tidak seperti label yang melekat pada etnisnya. Berikut adalah beberapa contohnya :
1. Basuki Tjahaja Purnama (etnis : Tionghoa ; Label etnis : Pelit)
Wakil Gubernur DKI Jakarta ini terkenal sebagai orang yang sangat membaur dan suka berbagi dengan rakyat yang dipimpinnya. Sewaktu masih menjabat sebaga Bupati Belitung, ia sering mengundang rakyatnya untuk datang dan ngopi-ngopi di rumahnya. Menurutnya, segala macam barang yang dibeli dengan gajinya adalah milik rakyat juga. Itu dikarenakan gaji yang ia terima juga berasal dari rakyat
2. Alm. Suharto (etnis : Jawa ; Label etnis : Kurang Tegas)
Siapa yang tidak kenal Alm. Suharto? Mantan Presiden RI ini dikenal sangat tegas dalam mengambil keputusan. Karena ketegasannya, ia bahkan dianggap beberapa kalangan sebagai diktator. Julukan diktator sangat menunjukkan bahwa Alm. Suharto sangat tegas dan bertolak belakang dengan label etnis Jawa yang dijuluki kurang tegas.
3. Alm. Benyamin Sueb (etnis : Betawi ; Label etnis : Pemalas)
Artis multi-talenta ini selama hidupnya telah menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film. Ia juga sangat peduli dengan kelestarian seni tradisional Betawi. Masih mau menilai semua orang Betawi malas?
Mari kita buka pikiran :)
Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah banyaknya etnis di Indonesia selalu dibanggakan sebagai kekayaan budaya dan keunikan tersendiri? Jangan sampai salah satu corak unik Indonesia justru dijadikan faktor perpecahan di negeri kita tercinta ini. Mari buka pikiran kita, hapuslah pandangan negatif terhadap perbedaan. Kita semua sama, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, INDONESIA!
Salam,
Soul Traveler
Tidak ada komentar:
Posting Komentar