Salah tapi Benar (?)
Saya tidak tahu apakah ini juga terjadi di negara lain selain di
Indonesia. Di negara yang memiliki ratusan juta penduduk ini, dapat
ditemukan kejanggalan-kejanggalan yang dianggap wajar.
Kejanggalan-kejanggalan yang saya bicarakan di sini meliputi banyak hal
yang berkaitan dengan kejadian sehari-hari.
Batas Umur Minimal Mengendarai Kendaraan Bermotor
Bukan sebuah pemandangan yang aneh, jika Anda melihat pengendara
kendaraan bermotor di Indonesia tidak hanya orang dewasa yang sudah
memiliki SIM. Siswa SMP dan bahkan SD sudah pernah saya lihat sedang
mengendarai kendaraan bermotor. Sungguh pemandangan yang mengerikan.
Bagaimana tidak? Pengendara yang berlisensi saja masih dapat melakukan
kesalahan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan. Bagaimana dengan
anak-anak di bawah umur?
Saya tidak sepenuhnya menyalahkan anak-anak tersebut. Saya lebih
menyayangkan para orangtua yang mengizinkan anak-anaknya yang masih
belum cukup umur untuk mengendarai kendaraan bermotor. Entah apakah
mereka bangga jika anaknya sudah bisa mengendarai kendaraan bermotor
sejak kecil, atau sengaja ingin membunuh anaknya secara tidak langsung
karena kelakuannya yang tidak baik? [Saya hanya bercanda untuk kalimat terakhir ini :) ]
Motor VS Mobil = Motor Menang
Jika di jalan terjadi tabrakan antara mobil dan motor, pasti yang disalahkan adalah pengendara mobil. Mengapa? Karena si pengendara mobil tidak luka-luka, sedangkan si pengendara motor pasti sudah luka parah atau sekarat. Kalau si pengendara mobil tidak mau membantu si pengendara motor, pasti ia akan dihabisi massa setempat karena dianggap tidak bertanggung jawab.
Padahal, belum tentu si pengendara mobil yang bersalah dalam tabrakan tersebut. Sudah hal yang lumrah bahwa pengendara motor di Indonesia, khususnya Jakarta, sering melakukan hal-hal ekstrim saat berkendara. "Mencari kesempatan dalam kesempitan" mungkin adalah motto hampir seluruh pengendara motor di Indonesia. Ketika ada celah sedikit di antara mobil-mobil, biasanya akan ada motor-motor yang menyelinap untuk menyalip. Tidak jarang, aksi para pengendara motor tersebut gagal karena berbagai faktor. Akibat dari kegagalan tersebut sudah jelas, pengendara motor dan motornya akan terserempet dan terlempar. Tidak jarang juga terjadi kasus di mana setelah jatuh, pengendara motor terlindas mobil lain yang melintas. Lagi-lagi siapa yang disalahkan? Mobil. Mengapa? Karena pengendara motor terlempar karena terserempet mobil? Paham macam apa ini? Saya jadi takut naik mobil. Takut dituduh atas kesalahan yang tidak saya perbuat.
Yang Memberi Uang Lebih yang Mendapatkan Prioritas
Jika Anda pernah mengurus dokumen-dokumen seperti SIM dan paspor, mungkin Anda pernah merasakan keadaan di mana Anda dipersulit ketika mengikuti prosedur pengurusan secara benar. Sebagai contoh, dalam proses pembuatan SIM, dengan mengikuti semua prosedur yang ada, saya menghabiskan waktu lebih dari lima jam sampai saya mendapatkan SIM di tangan saya. Sedangkan jika melalui calo(Calo yang saya maksud bisa orang yang kenal dekat dengan staf Samsat, maupun oknum-oknum Polisi.), Anda bahkan bisa mendapatkan SIM hanya dengan memberikan pas foto Anda. Tentu saja biaya yang harus Anda keluarkan jika menggunakan jasa calo akan jauh lebih besar dibandingkan dengan mengikuti prosedur yang benar. Anda hanya memerlukan sekitar 250 ribu rupiah untuk membuat SIM A dan C bila mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Dengan menggunakan jasa calo, Anda dapat menghabiskan lebih dari 750 ribu rupiah untuk mendapatkan kedua SIM tersebut.
Jadi, Benar atau Salah?
Apakah menurut Anda bahwa yang saya tulis di atas benar atau salah, semua kembali kepada diri Anda sendiri. Jika Anda adalah orang yang taat peraturan, mungkin Anda akan memandang hal-hal di atas sebagai hal-hal yang salah. Jika tidak, tentu saja pandangan Anda akan lain.
Menurut saya pribadi, mengapa harus repot-repot membenarkan hal yang salah jika di dunia ini masih tersedia banyak perilaku yang benar-benar benar?
Salam,
Soul Traveler
Kamis, 28 Februari 2013
Selasa, 26 Februari 2013
Lelucon dalam Bahasa Formal
Hitam adalah warna.
Putih adalah warna.
Tetapi, mengapa televisi hitam putih disebut "televisi tidak berwarna"?
Manusia yang digigit oleh zombie berubah menjadi zombie.
Tetapi, mengapa zombie yang digigit oleh manusia tidak menjadi manusia?
Kalau membawa kunci motor berarti membawa motor.
Tetapi, mengapa kalau membawa kunci rumah tidak membawa rumah?
Orang dengan mental yang lemah biasa disebut mental tempe.
Tetapi, mengapa tidak mental tahu saja? Padahal tahu lebih lunak.
Dalam percakapan Bahasa Inggris, "Right" artinya "Benar".
Tetapi, mengapa "Left" artinya bukan "Salah"?
Perempuan berpendapat, hanya laki-laki kere yang berpendapat bahwa perempuan matre.
Tetapi, laki-laki juga berpendapat, hanya perempuan matre yang berpendapat bahwa laki-laki kere.
Sekian,
Soul Traveler
Putih adalah warna.
Tetapi, mengapa televisi hitam putih disebut "televisi tidak berwarna"?
Manusia yang digigit oleh zombie berubah menjadi zombie.
Tetapi, mengapa zombie yang digigit oleh manusia tidak menjadi manusia?
Kalau membawa kunci motor berarti membawa motor.
Tetapi, mengapa kalau membawa kunci rumah tidak membawa rumah?
Orang dengan mental yang lemah biasa disebut mental tempe.
Tetapi, mengapa tidak mental tahu saja? Padahal tahu lebih lunak.
Dalam percakapan Bahasa Inggris, "Right" artinya "Benar".
Tetapi, mengapa "Left" artinya bukan "Salah"?
Perempuan berpendapat, hanya laki-laki kere yang berpendapat bahwa perempuan matre.
Tetapi, laki-laki juga berpendapat, hanya perempuan matre yang berpendapat bahwa laki-laki kere.
Sekian,
Soul Traveler
ORANG INDONESIA ITU RASIS!
(Peringatan! Konten Eksplisit!)
ORANG INDONESIA ITU RASIS!
Kalimat tentang isu rasisme tersebut pasti sudah sering anda dengar dan baca. Di tahun 2013, di saat setiap orang terlihat menyerukan kata persatuan, ternyata perpecahan karena rasisme masih terus terjadi. Memang rasisme zaman sekarang tidak lagi terlihat secara eksplisit seperti zaman dahulu di mana orang-orang dari etnis yang berbeda saling mengejek dengan menjelek-jelekkan etnis-etnisnya. Tetapi yang terjadi sekarang justru lebih parah. Paham rasisme bahkan ditanamkan ke dalam pikiran individu dari dalam lingkup keluarga!
Bukan hal yang baru, jika masyarakat Indonesia lebih senang untuk berteman dari etnis yang sama. Ternyata hal itu disebabkan oleh ajaran keluarga yang secara turun-temurun diajarkan ke setiap generasinya. Saya pun pernah di-"nasehati" untuk berteman dari etnis yang sama.
Mengapa harus dari etnis yang sama?
Berdasarkan apa yang saya dengar dari keluarga maupun lingkungan sekitar, masyarakat Indonesia cenderung terlalu membanggakan etnisnya masing-masing, serta memiliki sentimen terhadap beberapa etnis tertentu. Misalkan, ada stereotip perempuan Sunda itu hanya bisa berdandan dan menghabiskan uang suami saja. Kebalikannya, laki-laki Sunda disebut-sebut sebagai orang yang santun. Ada pula yang mengatakan bahwa orang Betawi itu pemalas dan kebanyakan pengangguran, orang Jawa yang terlalu banyak berpikir dan lambat dalam mengambil keputusan, orang Batak perkataannya tidak bisa dipercaya, hingga orang Tionghoa yang dicap sebagai orang-orang yang pelit.
Masih banyak label-label tentang etnis-etnis di Indonesia yang kalau ditulis sudah bisa menjadi buku.
Memangnya etnis memengaruhi sifat?
Mungkin para ahli biologi dan psikologi akan tertawa jika ditanyakan pertanyaan seperti itu. Faktanya, tidak pernah ada bukti ilmiah yang membuktikan bahwa sifat seseorang dipengaruhi oleh berasal dari etnis apa orang tersebut.
Generalisasi itu tidak baik!
Apakah Anda mau jika seluruh jawaban di kertas ulangan Anda dinyatakan salah hanya karena jawaban Anda di nomor pertama salah? Tentu tidak, bukan? Bisa jadi jawaban Anda yang salah hanya terdapat pada nomor pertama dan jawaban lainnya benar semua. Generalisasi dapat berdampak buruk karena kurang memerhatikan. Begitu juga dengan generalisasi yang berkaitan dengan rasisme. Tidak dapat seseorang dinyatakan memiliki sifat tertentu berdasarkan etnisnya.
Tidak percaya?
Banyak contoh orang-orang terkenal dari Indonesia yang sifatnya tidak seperti label yang melekat pada etnisnya. Berikut adalah beberapa contohnya :
1. Basuki Tjahaja Purnama (etnis : Tionghoa ; Label etnis : Pelit)
Wakil Gubernur DKI Jakarta ini terkenal sebagai orang yang sangat membaur dan suka berbagi dengan rakyat yang dipimpinnya. Sewaktu masih menjabat sebaga Bupati Belitung, ia sering mengundang rakyatnya untuk datang dan ngopi-ngopi di rumahnya. Menurutnya, segala macam barang yang dibeli dengan gajinya adalah milik rakyat juga. Itu dikarenakan gaji yang ia terima juga berasal dari rakyat
2. Alm. Suharto (etnis : Jawa ; Label etnis : Kurang Tegas)
Siapa yang tidak kenal Alm. Suharto? Mantan Presiden RI ini dikenal sangat tegas dalam mengambil keputusan. Karena ketegasannya, ia bahkan dianggap beberapa kalangan sebagai diktator. Julukan diktator sangat menunjukkan bahwa Alm. Suharto sangat tegas dan bertolak belakang dengan label etnis Jawa yang dijuluki kurang tegas.
3. Alm. Benyamin Sueb (etnis : Betawi ; Label etnis : Pemalas)
Artis multi-talenta ini selama hidupnya telah menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film. Ia juga sangat peduli dengan kelestarian seni tradisional Betawi. Masih mau menilai semua orang Betawi malas?
Mari kita buka pikiran :)
Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah banyaknya etnis di Indonesia selalu dibanggakan sebagai kekayaan budaya dan keunikan tersendiri? Jangan sampai salah satu corak unik Indonesia justru dijadikan faktor perpecahan di negeri kita tercinta ini. Mari buka pikiran kita, hapuslah pandangan negatif terhadap perbedaan. Kita semua sama, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, INDONESIA!
Salam,
Soul Traveler
ORANG INDONESIA ITU RASIS!
Kalimat tentang isu rasisme tersebut pasti sudah sering anda dengar dan baca. Di tahun 2013, di saat setiap orang terlihat menyerukan kata persatuan, ternyata perpecahan karena rasisme masih terus terjadi. Memang rasisme zaman sekarang tidak lagi terlihat secara eksplisit seperti zaman dahulu di mana orang-orang dari etnis yang berbeda saling mengejek dengan menjelek-jelekkan etnis-etnisnya. Tetapi yang terjadi sekarang justru lebih parah. Paham rasisme bahkan ditanamkan ke dalam pikiran individu dari dalam lingkup keluarga!
Bukan hal yang baru, jika masyarakat Indonesia lebih senang untuk berteman dari etnis yang sama. Ternyata hal itu disebabkan oleh ajaran keluarga yang secara turun-temurun diajarkan ke setiap generasinya. Saya pun pernah di-"nasehati" untuk berteman dari etnis yang sama.
Mengapa harus dari etnis yang sama?
Berdasarkan apa yang saya dengar dari keluarga maupun lingkungan sekitar, masyarakat Indonesia cenderung terlalu membanggakan etnisnya masing-masing, serta memiliki sentimen terhadap beberapa etnis tertentu. Misalkan, ada stereotip perempuan Sunda itu hanya bisa berdandan dan menghabiskan uang suami saja. Kebalikannya, laki-laki Sunda disebut-sebut sebagai orang yang santun. Ada pula yang mengatakan bahwa orang Betawi itu pemalas dan kebanyakan pengangguran, orang Jawa yang terlalu banyak berpikir dan lambat dalam mengambil keputusan, orang Batak perkataannya tidak bisa dipercaya, hingga orang Tionghoa yang dicap sebagai orang-orang yang pelit.
Masih banyak label-label tentang etnis-etnis di Indonesia yang kalau ditulis sudah bisa menjadi buku.
Memangnya etnis memengaruhi sifat?
Mungkin para ahli biologi dan psikologi akan tertawa jika ditanyakan pertanyaan seperti itu. Faktanya, tidak pernah ada bukti ilmiah yang membuktikan bahwa sifat seseorang dipengaruhi oleh berasal dari etnis apa orang tersebut.
Generalisasi itu tidak baik!
Apakah Anda mau jika seluruh jawaban di kertas ulangan Anda dinyatakan salah hanya karena jawaban Anda di nomor pertama salah? Tentu tidak, bukan? Bisa jadi jawaban Anda yang salah hanya terdapat pada nomor pertama dan jawaban lainnya benar semua. Generalisasi dapat berdampak buruk karena kurang memerhatikan. Begitu juga dengan generalisasi yang berkaitan dengan rasisme. Tidak dapat seseorang dinyatakan memiliki sifat tertentu berdasarkan etnisnya.
Tidak percaya?
Banyak contoh orang-orang terkenal dari Indonesia yang sifatnya tidak seperti label yang melekat pada etnisnya. Berikut adalah beberapa contohnya :
1. Basuki Tjahaja Purnama (etnis : Tionghoa ; Label etnis : Pelit)
Wakil Gubernur DKI Jakarta ini terkenal sebagai orang yang sangat membaur dan suka berbagi dengan rakyat yang dipimpinnya. Sewaktu masih menjabat sebaga Bupati Belitung, ia sering mengundang rakyatnya untuk datang dan ngopi-ngopi di rumahnya. Menurutnya, segala macam barang yang dibeli dengan gajinya adalah milik rakyat juga. Itu dikarenakan gaji yang ia terima juga berasal dari rakyat
2. Alm. Suharto (etnis : Jawa ; Label etnis : Kurang Tegas)
Siapa yang tidak kenal Alm. Suharto? Mantan Presiden RI ini dikenal sangat tegas dalam mengambil keputusan. Karena ketegasannya, ia bahkan dianggap beberapa kalangan sebagai diktator. Julukan diktator sangat menunjukkan bahwa Alm. Suharto sangat tegas dan bertolak belakang dengan label etnis Jawa yang dijuluki kurang tegas.
3. Alm. Benyamin Sueb (etnis : Betawi ; Label etnis : Pemalas)
Artis multi-talenta ini selama hidupnya telah menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film. Ia juga sangat peduli dengan kelestarian seni tradisional Betawi. Masih mau menilai semua orang Betawi malas?
Mari kita buka pikiran :)
Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah banyaknya etnis di Indonesia selalu dibanggakan sebagai kekayaan budaya dan keunikan tersendiri? Jangan sampai salah satu corak unik Indonesia justru dijadikan faktor perpecahan di negeri kita tercinta ini. Mari buka pikiran kita, hapuslah pandangan negatif terhadap perbedaan. Kita semua sama, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, INDONESIA!
Salam,
Soul Traveler
Langganan:
Postingan (Atom)