Senin, 23 Desember 2013

Informasi, Masih Dapatkah Dipercaya?

Orang Indonesia memang bagus sudah banyak yang mengenal teknologi internet, tetapi dalam penggunaannya, masih banyak yang belum sadar bahwa banyak informasi di dunia maya yang keasliannya tidak dapat dipastikan. Hal ini diperburuk dengan banyaknya orang Indonesia yang malas menambah wawasan, sehingga wawasannya kurang luas. Alhasil, seringkali informasi-informasi palsu yang beredar di internet dianggap sebagai informasi yang terpercaya, serta sebaliknya, informasi-informasi yang berupa fakta nyata justru dianggap palsu atau dipaksakan.

Contoh yang ingin saya bahas di dalam tulisan ini adalah kasus salah satu portal berita online “d*tik.com”. Portal berita ini pernah menulis berita tentang N, seorang mahasiswa UI, yang kebetulan merupakan teman saya, yang dianggap mempermainkan Polisi, khususnya Densus 88.

Di dalam berita tersebut disebutkan bahwa N menelepon Densus 88 lantaran mendapati kotak yang mencurigakan di dalam mobilnya yang tidak diketahui asal muasalnya. Setelah beberapa anggota Densus 88 datang, ternyata isi kotak tersebut adalah printer dengan kertas bertuliskan “April Mop”. Disebutkan juga bahwa beberapa teman N datang dan menyorakinya sembari mengucapkan selamat ulang tahun karena N saat itu sedang berulang tahun.

Berita tersebut benar-benar mendapatkan respon negatif dari para pembacanya. Ada yang mencela N, ada juga yang sampai mencela UI dengan sebutan universitas yang tidak dapat mendidik mahasiswanya. Ini benar-benar pencemaran nama baik tingkat tinggi. Bukan hanya perorangan, tetapi juga organisasi yang dicemar nama baiknya.

Setelah mendapati nama baiknya dicoreng di portal berita tersebut, teman saya lantas marah dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ia berani mengklaim bahwa cerita versinya benar dan ia memiliki banyak saksi dan bukti.

Jadi, saat itu N yang hendak memasuki mobilnya menemukan kotak yang bukan miliknya berada di dalam mobilnya. Karena curiga dan khawatir bahwa kotak tersebut berisi benda berbahaya, ia lantas melapor kepada Satpam. Satpam pun berinisiatif untuk menelepon Polisi, yang kemudian mengirimkan beberapa anggota Densus 88. Setelah diperiksa, ternyata isi kotak tersebut adalah sebuah printer, tanpa kertas bertuliskan “April Mop” maupun “Happy Birthday”. Teman-teman yang lewat pun sebenarnya hanya kebetulan lewat dan hanya menyoraki N dengan maksud mengolok N yang dikerjai seseorang tidak dikenal yang menaruh kotak misterius di dalam mobilnya. Tidak ada ucapan “April Mop”, apalagi “Happy Birthday” karena kenyataannya hari itu N tidak berulang tahun. Cerita selesai sampai di sini.

Entah darimana datangnya jurnalis “d*tik.com” yang tiba-tiba dapat dengan cepat mengarang cerita tentang kesialan teman saya yang diubah menjadi seperti tindakan tidak terpuji seorang mahasiswa terhadap Polisi. Saya akui, sang jurnalis sangat andal dalam merangkai kata. Namun, apa salahnya menuliskan berita apa adanya? Toh, dengan menulis berita sesuai fakta, sang jurnalis tidak perlu repot-repot merangkai kata-kata indah dalam karangan palsu, bukan?

Selain dari para jurnalis yang perlu lebih memperhatikan kejujuran serta kode etik jurnalistik, masyarakat umum sebagai penerima berita juga harus bersikap kritis terhadap berita-berita yang muncul, terutama di dunia maya. Setiap muncul sebuah informasi baru, cermatilah terlebih dahulu kelogisan informasi dan kredibilitas pemberi informasinya. Jangan sampai Anda tergiring untuk membuat opini karena terkena kata-kata renyah ala jurnalis yang belum tentu sepenuhnya benar. Selain itu, perdalam juga pengetahuan umum Anda dari sumber-sumber terpercaya untuk menjadi bahan pertimbangan setiap menerima informasi baru.

Sekian dulu pembahasan saya kali ini, mohon maaf bila ada kekurangan dan salah kata.



Salam,
Andito

Jumat, 12 April 2013

Dilema Pemilihan Jurusan di Universitas

Bukan berita baru, kalau banyak mahasiswa yang sudah berkuliah di sebuah perguruan tinggi, kemudian justru mengikuti ujian masuk perguruan tinggi lagi di tahun berikutnya. Kondisi ini merugikan banyak pihak. Ketika seorang mahasiswa memutuskan untuk pindah jurusan, berarti ia sama saja telah menyia-nyiakan jerih payahnya sendiri selama berkuliah di jurusannya sekarang. Selain itu, dengan berpindah jurusan dan mengulang kuliah, mahasiswa tersebut juga telah membuang uang dan waktu dalam jumlah yang besar.

Asal Pilih

Sewaktu masih di bangku SMA, para calon mahasiswa cenderung memilih jurusan secara asal. Mereka masih banyak terpengaruh oleh teman-temannya, tanpa mempertimbangkan minat dan bakat pada jurusan yang dipilih.

Teman-teman saya bahkan masih banyak yang menyesal telah memilih jurusan tempat mereka berkuliah saat ini (Saya berkuliah di sebuah fakultas dengan jurusan ilmu komputer-sistem informasi di sebuah perguruan tinggi di Indonesia). Mereka mengakui bahwa mereka hanya asal memilih jurusan karena peringkat jurusannya cukup tinggi. Lagi-lagi, faktor eksternal seperti pamor dan peringkat jurusan yang membuat banyak calon mahasiswa asal memilih jurusan.

Bimbel Menyesatkan

Bimbingan belajar atau bimbel sangatlah terkenal di kalangan calon mahasiswa. Bimbel menyediakan jasa persiapan mengikuti berbagai macam ujian masuk perguruan negeri. Beberapa bimbel bahkan menyediakan informasi lengkap tentang peringkat perguruan tinggi, kuota penerimaan, hingga detil dari jurusan-jurusannya. Namun, dibalik fasilitas-fasilitas yang disediakan, bimbel juga dapat menyesatkan calon mahasiswa.

Bagi yang memiliki peringkat tinggi di bimbel, biasanya disarankan untuk masuk ke jurusan-jurusan yang favorit. Tujuannya adalah agar ketika calon mahasiswa tersebut diterima di jurusan yang favorit, nama baik bimbel akan terangkat karena berhasil memasukkan muridnya ke jurusan favorit. Padahal, belum tentu jurusan tersebut cocok dengan minat dan bakat si calon mahasiswa. Yang dipikirkan bimbel hanyalah memasukkan sebanyak-banyaknya muridnya ke jurusan-jurusan favorit demi tenarnya nama bimbel tersebut.

Tidak hanya calon mahasiswa dengan peringkat tinggi di bimbel yang disesatkan, tetapi juga yang berperingkat rendah. Biasanya, bimbel menawarkan garansi berupa pengembalian uang kepada calon mahasiswa bimbingannya yang tidak lulus ujian masuk perguruan tinggi. Untuk menghindari terjadinya kerugian karena gagalnya para calon mahasiswa, bimbel biasanya akan membujuk mereka yang memiliki peringkat rendah untuk memilih jurusan yang 'sepi'. Jurusan-jurusan yang sepi ini biasanya merupakan jurusan yang membutuhkan minat serta keterampilan yang tinggi (Contoh : Sastra Jawa), sehingga hanya orang-orang yang berminat yang mendaftar di jurusan tersebut. Intinya, yang bimbel pedulikan dari peserta didiknya hanyalah sebatas "diterima di perguruan tinggi".

Keinginan Orangtua

Tahun 2013 bukanlah lagi zaman Siti Nurbaya di mana seorang anak ditentukan jalan hidupnya oleh orangtuanya. Namun kenyataannya, masih banyak calon mahasiswa dan bahkan mahasiswa yang memilih jurusan sesuai keinginan orangtuanya. Alasan paling umum biasanya karena menurut orangtua, jurusan yang dipilihkan oleh mereka memiliki prospek yang baik di dunia kerja. Terjadi kesalahan pemikiran di sini. Jika orangtua yang menyukai sebuah jurusan tertentu, mengapa justru anaknya yang dipaksa untuk memilih? Bagus jika anaknya sepemikiran, jika tidak? Yang ada sang anak tidak akan mendapat ilmu sama sekali karena yang ia lakukan hanyalah mengikuti perintah orangtua.

Tips-Tips

Berikut ini adalah beberapa tips dari saya agar tidak salah dalam memilih jurusan :
1. Kenali diri Anda, apa minat Anda, dan di jurusan apa Anda dapat mengembangkan minat Anda tersebut.

2. Bimbel bukan jaminan Anda untuk dapat lulus ujian  masuk perguruan tinggi. Jadi, jangan sampai terpengaruh oleh bujukan-bujukan bimbel yang menjerumuskan.

3. Terbuka kepada orangtua tentang minat Anda, serta jelaskan prospek Anda setelah lulus kuliah jika diperbolehkan untuk memilih jurusan sesuai dengan keinginan Anda.

Semoga tulisan ini dapat menjadi media informasi serta pembelajaran bagi calon mahasiswa, mahasiswa, maupun para orangtua yang saya yakini selalu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya.



Salam,
Soul Traveler

Kamis, 28 Februari 2013

Salah yang Dibenarkan

Salah tapi Benar (?)

Saya tidak tahu apakah ini juga terjadi di negara lain selain di Indonesia. Di negara yang memiliki ratusan juta penduduk ini, dapat ditemukan kejanggalan-kejanggalan yang dianggap wajar. Kejanggalan-kejanggalan yang saya bicarakan di sini meliputi banyak hal yang berkaitan dengan kejadian sehari-hari.


Batas Umur Minimal Mengendarai Kendaraan Bermotor


Bukan sebuah pemandangan yang aneh, jika Anda melihat pengendara kendaraan bermotor di Indonesia tidak hanya orang dewasa yang sudah memiliki SIM. Siswa SMP dan bahkan SD sudah pernah saya lihat sedang mengendarai kendaraan bermotor. Sungguh pemandangan yang mengerikan. Bagaimana tidak? Pengendara yang berlisensi saja masih dapat melakukan kesalahan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan. Bagaimana dengan anak-anak di bawah umur?

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan anak-anak tersebut. Saya lebih menyayangkan para orangtua yang mengizinkan anak-anaknya yang masih belum cukup umur untuk mengendarai kendaraan bermotor. Entah apakah mereka bangga jika anaknya sudah bisa mengendarai kendaraan bermotor sejak kecil, atau sengaja ingin membunuh anaknya secara tidak langsung karena kelakuannya yang tidak baik? [Saya hanya bercanda untuk kalimat terakhir ini :) ]


Motor VS Mobil = Motor Menang

Jika di jalan terjadi tabrakan antara mobil dan motor, pasti yang disalahkan adalah pengendara mobil. Mengapa? Karena si pengendara mobil tidak luka-luka, sedangkan si pengendara motor pasti sudah luka parah atau sekarat. Kalau si pengendara mobil tidak mau membantu si pengendara motor, pasti ia akan dihabisi massa setempat karena dianggap tidak bertanggung jawab.

Padahal, belum tentu si pengendara mobil yang bersalah dalam tabrakan tersebut. Sudah hal yang lumrah bahwa pengendara motor di Indonesia, khususnya Jakarta, sering melakukan hal-hal ekstrim saat berkendara. "Mencari kesempatan dalam kesempitan" mungkin adalah motto hampir seluruh pengendara motor di Indonesia. Ketika ada celah sedikit di antara mobil-mobil, biasanya akan ada motor-motor yang menyelinap untuk menyalip. Tidak jarang, aksi para pengendara motor tersebut gagal karena berbagai faktor. Akibat dari kegagalan tersebut sudah jelas,  pengendara motor dan motornya akan terserempet dan terlempar. Tidak jarang juga terjadi kasus di mana setelah jatuh, pengendara motor terlindas mobil lain yang melintas. Lagi-lagi siapa yang disalahkan? Mobil. Mengapa? Karena pengendara motor terlempar karena terserempet mobil? Paham macam apa ini? Saya jadi takut naik mobil. Takut dituduh atas kesalahan yang tidak saya perbuat.

Yang Memberi Uang Lebih yang Mendapatkan Prioritas

Jika Anda pernah mengurus dokumen-dokumen seperti SIM dan paspor, mungkin Anda pernah merasakan keadaan di mana Anda dipersulit ketika mengikuti prosedur pengurusan secara benar. Sebagai contoh, dalam proses pembuatan SIM, dengan mengikuti semua prosedur yang ada, saya menghabiskan waktu lebih dari lima jam sampai saya mendapatkan SIM di tangan saya. Sedangkan jika melalui calo(Calo yang saya maksud bisa orang yang kenal dekat dengan staf Samsat, maupun oknum-oknum Polisi.), Anda bahkan bisa mendapatkan SIM hanya dengan memberikan pas foto Anda. Tentu saja biaya yang harus Anda keluarkan jika menggunakan jasa calo akan jauh lebih besar dibandingkan dengan mengikuti prosedur yang benar. Anda hanya memerlukan sekitar 250 ribu rupiah untuk membuat SIM A dan C bila mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Dengan menggunakan jasa calo, Anda dapat menghabiskan lebih dari 750 ribu rupiah untuk mendapatkan kedua SIM tersebut.


Jadi, Benar atau Salah?

Apakah menurut Anda bahwa yang saya tulis di atas benar atau salah, semua kembali kepada diri Anda sendiri. Jika Anda adalah orang yang taat peraturan, mungkin Anda akan memandang hal-hal di atas sebagai hal-hal yang salah. Jika tidak, tentu saja pandangan Anda akan lain.

Menurut saya pribadi, mengapa harus repot-repot membenarkan hal yang salah jika di dunia ini masih tersedia banyak perilaku yang benar-benar benar?



Salam,
Soul Traveler 

Selasa, 26 Februari 2013

Lelucon dalam Bahasa Formal

Hitam adalah warna.
Putih adalah warna.
Tetapi, mengapa televisi hitam putih disebut "televisi tidak berwarna"?

Manusia yang digigit oleh zombie berubah menjadi zombie.
Tetapi, mengapa zombie yang digigit oleh manusia tidak menjadi manusia?

Kalau membawa kunci motor berarti membawa motor.
Tetapi, mengapa kalau membawa kunci rumah tidak membawa rumah?

Orang dengan mental yang lemah biasa disebut mental tempe.
Tetapi, mengapa tidak mental tahu saja? Padahal tahu lebih lunak.

Dalam percakapan Bahasa Inggris, "Right" artinya "Benar".
Tetapi, mengapa "Left" artinya bukan "Salah"?

Perempuan berpendapat, hanya laki-laki kere yang berpendapat bahwa perempuan matre.
Tetapi, laki-laki juga berpendapat, hanya perempuan matre yang berpendapat bahwa laki-laki kere.

Sekian,
Soul Traveler

ORANG INDONESIA ITU RASIS!

(Peringatan! Konten Eksplisit!)

ORANG INDONESIA ITU RASIS!

Kalimat tentang isu rasisme tersebut pasti sudah sering anda dengar dan baca. Di tahun 2013, di saat setiap orang terlihat menyerukan kata persatuan, ternyata perpecahan karena rasisme masih terus terjadi. Memang rasisme zaman sekarang tidak lagi terlihat secara eksplisit seperti zaman dahulu di mana orang-orang dari etnis yang berbeda saling mengejek dengan menjelek-jelekkan etnis-etnisnya. Tetapi yang terjadi sekarang justru lebih parah. Paham rasisme bahkan ditanamkan ke dalam pikiran individu dari dalam lingkup keluarga!

Bukan hal yang baru, jika masyarakat Indonesia lebih senang untuk berteman dari etnis yang sama. Ternyata hal itu disebabkan oleh ajaran keluarga yang secara turun-temurun diajarkan ke setiap generasinya. Saya pun pernah di-"nasehati" untuk berteman dari etnis yang sama.

Mengapa harus dari etnis yang sama?

Berdasarkan apa yang saya dengar dari keluarga maupun lingkungan sekitar, masyarakat Indonesia cenderung terlalu membanggakan
etnisnya masing-masing, serta memiliki sentimen terhadap beberapa etnis tertentu. Misalkan, ada stereotip perempuan Sunda itu hanya bisa berdandan dan menghabiskan uang suami saja. Kebalikannya, laki-laki Sunda disebut-sebut sebagai orang yang santun. Ada pula yang mengatakan bahwa orang Betawi itu pemalas dan kebanyakan pengangguran, orang Jawa yang terlalu banyak berpikir dan lambat dalam mengambil keputusan, orang Batak perkataannya tidak bisa dipercaya, hingga orang Tionghoa yang dicap sebagai orang-orang yang pelit.

Masih banyak label-label tentang etnis-etnis di Indonesia yang kalau ditulis sudah bisa menjadi buku.

Memangnya etnis memengaruhi sifat?

Mungkin para ahli biologi dan psikologi akan tertawa jika ditanyakan pertanyaan seperti itu. Faktanya, tidak pernah ada bukti ilmiah yang membuktikan bahwa sifat seseorang dipengaruhi oleh berasal dari etnis apa orang tersebut.

Generalisasi itu tidak baik!

Apakah Anda mau jika seluruh jawaban di kertas ulangan Anda dinyatakan salah hanya karena jawaban Anda di nomor pertama salah? Tentu tidak, bukan? Bisa jadi jawaban Anda yang salah hanya terdapat pada nomor pertama dan jawaban lainnya benar semua. Generalisasi dapat berdampak buruk karena kurang memerhatikan. Begitu juga dengan generalisasi yang berkaitan dengan rasisme. Tidak dapat seseorang dinyatakan memiliki sifat tertentu berdasarkan etnisnya.

Tidak percaya?

Banyak contoh orang-orang terkenal dari Indonesia yang sifatnya tidak seperti label yang melekat pada etnisnya. Berikut adalah beberapa contohnya :

1. Basuki Tjahaja Purnama (etnis : Tionghoa ; Label etnis : Pelit)
Wakil Gubernur DKI Jakarta ini terkenal sebagai orang yang sangat membaur dan suka berbagi dengan rakyat yang dipimpinnya. Sewaktu masih menjabat sebaga Bupati Belitung, ia sering mengundang rakyatnya untuk datang dan ngopi-ngopi di rumahnya. Menurutnya, segala macam barang yang dibeli dengan gajinya adalah milik rakyat juga. Itu dikarenakan gaji yang ia terima juga berasal dari rakyat

2. Alm. Suharto (etnis : Jawa ; Label etnis : Kurang Tegas)
Siapa yang tidak kenal Alm. Suharto? Mantan Presiden RI ini dikenal sangat tegas dalam mengambil keputusan. Karena ketegasannya, ia bahkan dianggap beberapa kalangan sebagai diktator. Julukan diktator sangat menunjukkan bahwa Alm. Suharto sangat tegas dan bertolak belakang dengan label etnis Jawa yang dijuluki kurang tegas.

3. Alm. Benyamin Sueb (etnis : Betawi ; Label etnis : Pemalas)
Artis multi-talenta ini selama hidupnya telah menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film. Ia juga sangat peduli dengan kelestarian seni tradisional Betawi. Masih mau menilai semua orang Betawi malas?

Mari kita buka pikiran :)

Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah banyaknya etnis di Indonesia selalu dibanggakan sebagai kekayaan budaya dan keunikan tersendiri? Jangan sampai salah satu corak unik Indonesia justru dijadikan faktor perpecahan di negeri kita tercinta ini. Mari buka pikiran kita, hapuslah pandangan negatif terhadap perbedaan. Kita semua sama, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, INDONESIA!




Salam,
Soul Traveler